Dan hantu piano di sekolahku ini, anjiiir serem banget," katanya. "Pernah ada yang melihat sosok hantu lain, selain bermain piano?" tanya saya. Drian menganggukan kepala. menurutnya, paling seram tetap mitos hantu bermain piano pada sore menjelang malam. Hanya denting saja yang terdengar, bukan penampakan, tapi itu seram bukan main, tuturnya. Dalambeberapa cerita masyarakat, disebutkan bahwa Pangeran Tawangulun ini adalah salah seorang suami Nyi Roro Kidul. Warga lokal pun percaya, setiap malam Jumat, Kerajaan Macan Putih ini bisa dilihat oleh mata manusia di puncak Gunung Raung supaya Nyi Roro Kidul bisa mengunjungi suaminya. Romantis banget. JBYRp. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Seir Haidah HasibuanMalam TerakhirMentari di ufuk Timur menyinariku saat melangkah menuju tempatku bekerja. Aku harus mengayunkan langkahku untuk sampai ke halte bis. Kantorku lumayan jauh dari rumahku. Bayu bertiup lembut membelai rambutku yang terurai hingga tanganku kerepotan untuk merapikannya. Jalanan mulai sepi anak-anak sekolah sudah lebih dulu berangkat. Pegawai kantoran berangkat lebih siang karena, masuk pukul 08. 00 WIB. Dari kejauhan mobil angkot sudah menungguku. Aku melangkah naik ke dalam angkot. Ternyata penumpang sudah banyak, masih ada dua lagi bangku kososng. Aku duduk di sela-sela penumpang. "Ayo jalan, penumpang sudah penuh," teriak melaju meninggalkan halte. Netraku mengedar ke arah penumpang kalau-kalau ada yang kukenal. Di pojok bangku ada seorang lelaki yang menunduk, ia asyik dengan buku di tangannya. Entah, buku apa itu aku tidak megerti."Pinggir, Pak sopir," ucapku sembari bangun dari tempat dudukku. Aku melangkah sambil kusodorkan tanganku memberi turun dengan hati-hati. Ternayata lelaki yang duduk di pojok ikut turun. Aku belum pernah melihatnya. Rambutnya sedikit ikal, tubuhnya tinggi langsing dan lumayan tampan. Aku meliriknya sedikit. Tetiba dia menyapa. "Hai, Lin, kita jalan bareng ya," tegurnya membuat aku menoleh penasaran, kuperhatikan dengan sekasama namun, aku tidak mengenalnya."Kamu lupa ya, sama aku, kakak kelas sewaktu kita sekolah di SMA Suka Maju," ungkapnya. Rupanya dia tahu pikiranku yang masih bingung. 1 2 Lihat Cerpen Selengkapnya CeritaMisteri - Cerita Malam Jumat Yang Dianggap Seram Dan Mistis - Malam Jum’at dianggap oleh banyak orang sebagai hari yang seram dan mistis. Hal tersebut sudah menjadi hal yang turun temurun dari jaman nenek moyang hingga jaman sekarang ini. Hal tersebut tidak tahu kenapa bisa menjadi cerita sampai turun temurun hingga saat ini, ditambah lagi memang pada malam jum’at acara-acara televisi Dalam Cerita Malam Jumat Yang Dianggap Seram Dan Mistis seakan mendukung untuk mempengaruhi masyarakat yang sekaligus membenarkan bahwa malam Jumat itu adalah malam yang seram. Sebenarnya semua hal itu tidak lah benar, pasalnya mitos seram dan mistis nya malam jum’at mungkin awalnya berhubungan tradisi masyarakat Jawa yang menganggap malam jumat kliwon dan selasa kliwon sebagai hari yang dikeramatkan. Hal ini dikaitkan dengan adanya tradisi puasa orang jaman dahulu yaitu selama 40 hari yang dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta yang puncak puasanya terjadi pada hari Jumat Kliwon. Hari-hari tersebut biasanya ditaruh aneka macam sesajen di berbagai pojokan tempat yang dianggap sakral. Selain itu, ternyata memang karena kepercayaan dari luar pun ikut mempengaruhi cara pandang masyarakat tentang malam jumat. Adanay kedatangan orang-orang Belanda jaman dahulu untuk menjajah Indonesia beberapa ratus tahun yang lalu itu juga membawa kepercayaan mistis, entah di sengaja atau tidak. Alasannya adalah dalam budaya urban masyarakat Eropa, terdapat mitos Friday the 13th yang memang telah menjadi sebuah hal yang tidak asing lagi. Friday the 13th berarti bahwa hari jumat tanggal 13 di bulan apapun merupakan hari yang membawa kesialan. Ingin Daftar Permainan Games Judi Online Silahkan Saja Klik Dibawah Ini Mungkin berdasarkan mitos tersebut di gunakan oleh orang-orang tua kita terdahulu, untuk menanamkan betapa pentingnya malam jum’at. Yang mana malam jum’at merupakan malam sunnah rosul’ dan malam jum’at malam angker’ mungkin saja saling berkaitan, dan ini menimbulkan sesuatu yang postif tapi juga negatif. Hal Positif Yang Dapat Diambil Adalah Malam Jum’at diMitoskan sebagai Malam seram dan mistis’ sengaja di isukan orang tua kepada anak-anak nya waktu dulu agar tidak berkeluyuran pada malam hari. Dan waktu malam jum’at jum’at hari suci bagi umat islam bisa di gunakan oleh sang anak untuk selalu membaca AlQur’an dan Beribadah di waktu malam sebagai mana sunnah Rasulullah sesungguhnya yakni beribadah di waktu malam dengan cara menakuti anak anak dengan cerita malam Jum’at malam banyak hantu dan agar terlindung dari gangguan hantu Adalah rajin membaca Al Qur’an dan beribadah di waktu malam. Hal Negatif Yang Dapat Diambil Adalah Dengan adanya mitos seram dan mistisnya malam jum’at membuat anak–anak bahkan orang yang sudah dewasa pun di tanamkan akan hal mitos tersebut yaitu tentang malam jum’at yang sebenarnya tidak benar, dan karena ketidak tahuan kita mitos ini terus berlanjut dari generasi ke genarasi seterusnya, sehingga menciptakan ketakutan bagi masyarakat luas. Demikianlah Untuk Artikel Yang Saya Buat Dalam Cerita Malam Jumat Yang Dianggap Seram Dan Mistis Semoga Anda Bisa terhibur Silahkan Klik langsung Di Bawah Ini Bonus PromoNew Member 10% Bonus Referral Hingga 20% About nathalia - Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo. › Hiburan›Jerit Drupadi dalam Belitan... Putu Fajar Arcana mengambil potongan cerita dari epos Mahabharata, yakni tatkala Pandawa dikalahkan Kurawa di atas meja judi dan telanjur menjadikan istri mereka, Drupadi, sebagai taruhan. Tafsirnya menarik. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTOArcana Foundation mementaskan Teater Monolog Drupadi karya sutradara Putu Fajar Arcana di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat 2/6/2023. Pentas ini berlangsung hingga Sabtu 3/6/2023,Seorang perempuan berbaju putih terjebak dalam labirin merah menyala. Dia bergerak dalam kebingungan dan sekonyong-konyong tersentak tatkala seorang pria kekar menariknya secara kasar. Perempuan itu meronta, tapi kalah kuat dan akhirnya takluk dalam keterpaksaan. Pada momen yang lain, seorang perempuan tersungkur lalu diseret secara paksa oleh pria-pria kekar berwajah seram. Perempuan itu melata-lata, menyaruk tanah dengan jeritan potongan adegan itu muncul dalam pementasan Teater Monolog Drupadi Apa karena Aku Perempuan di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu 3/6/2023. Adegan itu sekaligus mengingatkan pada peristiwa ketika Drupadi lari kebingungan berharap pertolongan, tetapi Pandawa diam seribu langkah karena menyadari Drupadi bukan hak mereka lagi. Pada saat yang sama, Kurawa merasa berkuasa atas diri Drupadi. Pementasan ini menyuguhkan metafora-metafora ketertindasan kaum perempuan dalam gambaran yang artistik tanpa meninggalkan pesan gugatannya. Baca jugaPanggung Teater, Rehat Perempuan PesisirPenulis naskah sekaligus sutradara Putu Fajar Arcana mengambil potongan cerita dari epos Mahabharata, yakni tatkala Pandawa dikalahkan Kurawa di atas meja judi dan telanjur menjadikan istri mereka, Drupadi, sebagai taruhan. Potongan cerita itu menjadi episode paling kelam dan memiliki ruang yang amat luas untuk ditafsir. Dari titik itulah Fajar memancing empati sekaligus membongkar persepsi terhadap nasib dan posisi Drupadi sama artinya menyinggung seluruh perempuan, lebih tepatnya perempuan yang selama ini tidak diberi akses untuk bersuara. Jumlahnya amat banyak. Mereka menjelma sebagai mayoritas bungkam, silent majority. Mereka menelan segala siksa, duka, dan nestapa dalam diam, bahkan hingga malaikat mau WIJAYANTOArcana Foundation mementaskan Teater Monolog Drupadi karya sutradara Putu Fajar Arcana di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat 2/6/2023. Putu malam itu menghidupkan Drupadi di atas panggung dan memberinya ruang untuk melaungkan seluruh suara hatinya yang selama ini terpendam. Drupadi lalu menjelma sebagai juru bicara perempuan yang memprotes seluruh penindasan atas dirinya. ”Mengapa selalu tubuhku dipertaruhkan. Adakah ia telah menjelma tubuh yang keliru sehingga para lelaki tanpa rasa bersalah mempertaruhkannya di meja judi?” kata Drupadi yang malam itu diperankan oleh Agung cerita dari epos yang lahir berabad-abad lalu itu masih sangat relevan dalam konteks hari ini. Dalam tatanan masyarakat yang patriarkis dan misoginis, perempuan kerap dianggap sebagai sesuatu something, bukan seseorang someone sehingga mereka diperjualbelikan, dilacurkan, dan ditukargantikan sebagaimana barang. Baru-baru ini, seorang gadis berusia 15 tahun diperkosa oleh tujuh pemuda di Gorontalo, lalu seorang pembantu rumah tangga dimasukkan ke dalam kandang anjing, dipukul, dan ditelanjangi majikannya. Terlalu panjang untuk menyebutkan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan itu. Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengungkap, sepertiga perempuan di dunia atau sekitar 736 juta jiwa pernah mengalami kekerasan, dari fisik sampai itu tidak akan pernah terjadi jika semua orang melihat bahwa perempuan dan pria mempunyai derajat yang sama. Sayangnya bukan itu yang terjadi. Pola pikir misoginis, yakni kecenderungan untuk membenci perempuan karena dianggap lebih rendah daripada pria tadi, begitu kuat tertanam. Faktor pengaruhnya amat banyak, mulai dari tafsir terhadap kitab suci yang keliru atau konstruksi WIJAYANTOArcana Foundation mementaskan Teater Monolog Drupadi karya sutradara Putu Fajar Arcana di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat 2/6/2023. Pentas ini berlangsung hingga Sabtu 3/6/2023.Bahkan, dalam membaca epos Mahabharata pun tak sedikit yang secara diam-diam ataupun lantang menuding Drupadi sebagai biang perang akbar Bharatayudha. Padahal jika ditilik lebih jauh, perang itu pecah tak lain karena ambisi dan keserakahan kaum pria. ”Bahkan seluruh pergolakan yang kamu tahu bernama Bharatayudha, semua ditimpakan kepadaku,” protes ulangRentetan keluh kesah Drupadi malam itu menyisakan kesan bahwa kita harus membangun ulang dalam memandang perempuan. Drupadi adalah ibu kita, adik perempuan kita, istri kita, atau anak-anak perempuan kita. Drupadi adalah seluruh perempuan di dalam kehidupan kita. Drupadi harus dilihat sebagai seseorang secara utuh atas segala hak-hak hidupnya sebagaimana Teater Monolog Drupadi dijalin dari anasir drama monolog, tarian, nyanyian, musik, dan tata teknologi modern dalam porsi yang setara. Dibuka dengan gesekan biola yang menyayat dan segera menghantar penonton pada suasana kesuraman batin. Disusul tarian dengan koreografi dan musik modern yang secara visual aman menawan. Kematangan Jasmine Okubo meracik gerakan benar-benar teruji dalam pentas malam itu. Delapan penari muda dari Bali begitu fasih dalam mengikuti iringan jugaPertunjukan Teater Tari RamayanaPorsi musik, tari, monolog, multimedia, dan lagu yang dihadirkan selang-seling selama sekitar 1 jam 16 menit itu begitu dinamis sehingga tidak membosankan. Tatkala monolog Agung Ocha mulai terasa terlampau panjang, muncul nyanyian atau tarian yang seolah menjadi jeda, tetapi bukan sekadar jeda karena di dalamnya mengandung pesan yang menyambung dengan monolog tadi. Misalnya, di tengah pementasan ketika Drupadi hampir 7 menit monolog, terdengar alunan musik lembut disusul Agung Ocha melantunkan lagu ciptaan Ayu Laksmi. Ayu menciptakan dua lagu yang liriknya ditulis Bli Can, sapaan akrab Putu Fajar WIJAYANTOArcana Foundation mementaskan Teater Monolog Drupadi karya sutradara Putu Fajar Arcana di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat 2/6/2023. Pentas berlangsung hingga Sabtu 3/6/2023. Upaya kreatif Bli Can yang juga patut diapresiasi adalah ketika dia melakukan intertekstualitas. Potongan cerita Drupadi sebagaimana disinggung di atas diambil dari epos Mahabharata, tetapi dalam pementasan ini Bli Can memasukkan cerita dari Epos Ramayana. Itu dia sisipkan tatkala membuat metafora rencana Drupadi membalas karma dengan menggambarkan diri sebagai Marica yang menyamar menjadi kijang kencana menggoda Rama. Tujuannya agar Rama menjauh dari Sinta. Upaya intertekstualitas ini menjadi warna tersendiri sebagai variasi jugaPertunjukan Solidaritas Teater MandiriSebagai tontonan, Teater Monolog Drupadi amat menarik. Barang kali yang perlu ditilik ulang adalah cara ungkap Drupadi dalam menyampaikan ”suara” hatinya yang dalam beberapa bagian terkesan sebagai khotbah feminisme. Bukan hal yang buruk, tetapi barang kali kurang pas jika disampaikan dalam bentuk pentas begitu, pentas dengan semangat perlawanan Drupadi ini perlu diulang untuk membangun kesadaran baru dalam memandang perempuan sehingga belitan misogini itu pelan-pelan pergi.